Mempunyai anak yang cerdas merupakan dambaan setiap orang
tua. Berbagai usaha dan cara dilakukan untuk mencapai hal tersebut. Ada yang
mengajarkan membaca dan menghitung sejak anak masih jauh di bawah usia sekolah.
Banyak anak yang sudah diharuskan mengikuti berbagai kursus sejak baru masuk
SD. Ada yang memberikan susu dan makanan yang bergizi (yang mahal-mahal, bagi
yang berduit) sejak masih bayi. Membelikan berbagai macam mainan (bagi yang
berduit juga).
Berhasilkah cara di atas ?. Mungkin berhasil dan
mungkin juga tidak. Tidak selalu anak yang sudah diajarkan membaca dan
menghitung sejak jauh sebelum sekolah akan menjadi anak yang pandai. Mungkin
saja anak malah menjadi stress dan tidak berkembang normal karena merasa tertekan.
Tidak selalu anak yang sejak bayi diberikan susu dan makanan yang bergizi,
kelak menjadi anak yang cerdas. Belum tentu anak yang mempunyai mainan yang
bervariasi sejak bayi akan menjadi anak yang creative. Tidak selalu.
Then, Apakah ada suatu cara yang “mujarab” untuk
membuat anak menjadi cerdas ?. Bagaimana caranya ?.
Memang tidak ada cara yang “paten” yang bisa
dijadikan “buku panduan” dalam menjadikan anak menjadi cerdas. Banyak sekali
faktor yang mempengaruhi anak menjadi cerdas, normal, atau di bawah normal.
Yang pasti di sana ada faktor genetika yang berperan sangat besar (Para ahli
belum menemukan sampai berapa besar faktor genetika berperan). Tapi para ahli
sepakat bahwa kita dapat menggunakan “suatu cara yang sesuai” yang dapat memacu
anak untuk berkembang menjadi anak yang cerdas atau menjadi anak yang lebih
cerdas dari yang seharusnya.
Tiga hal yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Memberikan
kasih sayang yang besar semenjak bayi masih di dalam kandungan.
2. Memberikan
gizi yang baik semenjak bayi masih di dala kandungan.
3. Memberikan
“stimulasi-stimulasi” yang sesuai semenjak bayi masih di dalam kandungan.
Ketiga hal di atas harus dimulai sejak mulai
pembuahan, janin berkembang, bayi lahir, sampai anak-anak. Awas !!, masih
banyak orang tua yang menganggap bahwa “usaha mencerdaskan anak” baru bisa
dimulai saat bayi sudah lahir, mungkin bahkan saat anak mulai sekolah. Anggapan
ini bisa menjadikan orang tua menjadi terlambat untuk memulai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar